Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.
Tidak disangkal lagi, franchise GTA hingga saat ini masih dicari
gamer. Bahkan untuk seri game GTA lawas sekalipun, seperti yang berasal
dari console PS2, rasanya masih banyak gamer yang ingin memainkannya
kembali, terutama untuk Vice City dan San Andreas. Meskipun hal itu
adalah kesempatan emas untuk membuat kembali game lawas di console saat
ini, dan mengeruk keuntungan tanpa banyak usaha, tetapi Take-Two
berpikiran lain. Rockstar Games dan Take-Two mengatakan masih
memikirkannya, tetapi perusahaan tersebut berpendapat remaster GTA harus
terlihat bagus secara kreatif dan membuat gamer bahagia, tidak hanya
sekadar alat untuk mencari keuntungan.
Pendapat tersebut dilontarkan oleh CEO Take-Two Strauss Zelnick dalam
laporan penghasilan publisher tersebut. Ketika ditanya mengenai
kemungkinan Take-Two dan Rockstar Games dalam mengembalikan game GTA
terdahulu, mengikuti tren yang dilakukan beberapa publisher belakangan
ini, Zelnick menyatakan apakah langkah itu akan menyenangkan konsumer,
dan terlihat bagus. Ia juga menekankan perusahaannya tidak digerakkan
oleh mencari kesempatan menghasilkan keuntungan dengan cara yang tidak
kreatif. Take Two tak menutup potensi sebuah Remaster seri GTA, namun mereka menuntut hasil yang benar-benar berbeda.
“Kami akan mulai dengan bertanya, apakah langkah itu akan menarik
dari mata konsumer, akankah mereka senang dengan itu, apakah langkah itu
akan mencerminkan brand dengan baik, begitu juga dengan reputasi
perusahaan?” tambahnya. Ia juga menekankan, “Bila jawabannya ya, maka
itu akan menjadi kesempatan yang bagus. Bila tidak, maka kami akan
menolaknya. Saya rasa itulah sudut pandang kami, yang menjadi dasar dari
keputusan yang diambil label [Rockstar dan 2K].”
Pada kesempatan sama, Take-Two juga membicarakan mengenai kesempatan
berkaitan dengan upgrade hardware PS4 dan Xbox One. Menurut Take-Two,
semua itu adalah kesempatan untuk melepas game di console bersangkutan.
Perusahaan ini juga berpendapat bahwa pihak yang paling kreatif, paling
inovatif, dan paling efisien akan menang, dan itu pula yang menjadi
tujuan perusahaan take-Two.
Untuk genre racing, Sony memang ketinggalan jauh dari sang kompetitor
utama – Microsoft yang secara konsisten menelurkan seri Forza yang
kini tak hanya untuk Xbox One, tetapi juga berakhir di PC. Playstation 4
memang sempat diperkuat Driveclub – judul baru yang dipersiapkan oleh
Evolution Studios untuk bersaing dengan tren seperti ini namun
sayangnya, berakhir kegagalan. Semua gamer tahu bahwa Playstation 4
sudah saatnya punya setidaknya satu judul Gran Turismo untuk mengisi
kekosongan dan mulai bersaing kembali dengan Microsoft. Untungnya?
Mereka tak perlu menunggu terlalu lama.
Setelah sempat diumumkan eksistensinya beberapa waktu yang lalu, seri
terbaru Gran Turismo pertama untuk Playstation 4 – Gran Turismo Sport
akhirnya mendapatkan tanggal rilis pasti. Game racing ini akan meluncur
tahun ini juga! Game ini akan hadir dengan beragam mode: Arcade,
Campaign, Brand Central, Sport, Livery Editor, Scrapes, dan beragam
fitur sosial. Akan ada lebih dari 117 events di mode offline, 137 varian
mobil, 19 lokasi, dan kurang lebih 27 layout, termasuk Tokyo Expess Way
yang terinspirasi dari salah satu jalan di Jepang.
Proses pre-order akan memberikan Anda akses instan ke beberapa varian
mobil seperti Toyota FT-1 Vision GT Group 3, Peugeot HDi FAP LMP1, dan
Ford Mustang Group B Rally Car. Sebuah limited edition yang ditawarkan
dengan harga lebih mahal juga akan masuk sebagai alternatif bundle yang
bisa Anda beli.
Gran Turismo Sport akan meluncur pada tanggal 15 November 2016 mendatang, eksklusif untuk Playstation 4. Tertarik?
Apa selanjutnya? Ini mungkin pertanyaan besar yang menyelimuti benak
sebagian besar gamer yang sudah mencicipi Far Cry Primal. Keunikan
konsep masa pra sejarah yang diusung seri yang dirilis awal tahun
tersebut memang terhitung berhasil. Perang dengan teknologi terbatas dan
kombinasi dunia open-world yang indah tetap menawarkan formula sebuah
game Far Cry yang terasa familiar namun punya pendekatan yang berbeda.
Jika melihat kebiasaan Ubisoft selama ini, maka sebuah seri spin-off
seperti Primal biasanya akan diikuti dengan sebuah seri utama yang
memuat angka di dalamnya. Far Cry 5? Rumor justru mengarah ke seri yang
cukup banyak diantisipasi gamer – Blood Dragon 2!
Ubisoft memang belum angkat bicara sama sekali soal seri Far Cry
terbaru saat ini, namun rumor pertama menyebut bahwa besar kemungkinan
proyek teranyar ini akan berakhir dengan Far Cry: Blood Dragon 2.
Informasi ini muncul setelah salah satu voice actor yang juga merupakan
aktor ternama – Michael Beihn “tak sengaja” membocorkannya dalam sebuah
wawancara yang terekam di ajang Comic Con UK. Beihn secara terbuka
menyebut bahwa ia baru saja merekam suara untuk proyek yang ia sebut,
“game kedua” dari Blood Dragon. Ubisoft sendiri masih belum angkat
bicara soal rumor yang satu ini.
Michael Beihn – salah satu voice actor menyebut bahwa ia baru saja
merekam suara untuk sebuah proyek yang ia sebut sebagai “game kedua”
Blood Dragon.
Apakah ini berarti kita akan mendapatkan Far Cry: Blood Dragon 2
dalam waktu dekat ini? Ataukah ia tetap akan muncul sebagai seri
spin-off setelah Far Cry 5? Atau Beihn yang justru salah, dan suaranya
dipakai untuk Trials of Blood Dragon – sebuah seri game Trials yang
kabarnya akan memuat dunia Blood Dragon di dalamnya? Kita tunggu saja.
Kehadiran trailer beserta pengumuman tanggal rilis Gran Turismo Sport
untuk PS4 minggu lalu merupakan angin segar untuk fans seri game
balapan tersebut. Menambahkan informasi mengenai game Gran Turismo baru,
yang menurut developer Polyphony berbeda dengan Gran Turismo 7,
pimpinan franchise Gran Turismo Kazunori Yamauchi memastikan game
tersebut akan memiliki efek cuaca dan kerusakan mobil. Hal itu
ditambahkan oleh Yamauchi karena pada saat Gran Turismo Sport
diperlihatkan, efek tersebut masih belum ditambahkan.
Menurut Yamauchi, Polyphony saat ini sedang mengerjakan penambahan
efek kerusakan tersebut pada Gran Turismo Sport. Sedangkan untuk efek
cuaca, pihak developer masih mempertimbangkan apakah akan menggunakan
cuaca yang bisa dipilih sendiri oleh gamer sebelum bermain, bukan efek
cuaca dinamis yang terjadi secara acak. Selain itu, Yamauchi juga
mengatakan Polyphony menargetkan untuk memberikan resolusi 1080p dan
frame rate 60 fps di dalam game tersebut. Ia juga menambahkan Sport saat
ini masih bermasalah dengan besaran frame rate yang ditargetkan
tersebut. Polyphony berusaha membuat GT Sport berjalan di 60fps, hadir dengan efek cuaca dan kerusakan mobil.
Gran Turismo Sport sendiri merupakan game yang sempat diumumkan
pembuatannya Oktober lalu. Melalui pengumuman dan demonstrasi yang
diadakan minggu lalu, game untuk PS4 ini direncanakan akan dirilis pada
15 November di Jepang dan 18 November di UK. Game balapan khas
PlayStation ini juga akan menampilkan 130 mobil serta dukungan permainan
offline dan online.
Anda dan kami tahu bahwa ini jadi pertarungan yang tak lagi
terhindarkan. Dua buah game yang mungkin menawarkan karakter utama dan
cerita yang berbeda, tetapi mengusung mekanik dasar gameplay yang hampir
sama. Keduanya bercerita tentang penjelajah yang berusaha mengejar
artifak kuno dengan janji sebuah harta karun yang bahkan tak bisa
ditemukan oleh penjelajah legendaris sekalipun. Dan tentu saja, keduanya
tak akan bisa melakukannya dengan mudah apalagi dengan sosok antagonis
yang sepertinya berusaha mengejar hal yang sama. Baik Uncharted dan Rise
of the Tomb Raider mengusung sisi aksi, eksplorasi, dan sedikit bumbu
puzzle di dalamnya. Menariknya lagi? Kedua bersaing dengan cita rasa
yang serupa di tahun yang sama, yang membuat artikel GameFight menjadi
pertarungan yang mau tak mau, harus terjadi.
Anda yang sempat membaca review kami sebelumnya, baik untuk Rise of the Tomb Raider maupun Uncharted 4,
tentu bahwa kami jatuh hati dengan dua buah game ini. Rise of the Tomb
Raider adalah penyempurnaan dari seri pertama yang kini menawarkan sosok
Lara Croft yang lebih tangguh dengan konflik misterius yang lebih
personal. Hampir semua hal yang disukai gamer dari seri pertamanya
diperkuat di seri kedua ini dengan ragam inovasi yang memukau. Sementara
Uncharted 4: A Thief’s End juga tak berbeda. Dikembangkan oleh tangan
dingin Naughty Dog, ia berakhir jadi sebuah game super solid yang
memenuhi hampir semua hype yang sempat tercipta sebelum rilis resminya.
Kami tak ragu menyebutnya sebagai salah satu alasan solid untuk mulai
memikirkan Playstation 4 sebagai konsol pilihan karena kualitasnya yang
pantas dipuji. Keduanya hadir dengan peningkatan yang lebih baik dari
rilis seri sebelumnya.
Dengan semua persamaan elemen dan kualitas yang hampir serupa ini,
Rise of the Tomb Raider dan Uncharted 4: A Thief’s End pantas untuk
masuk ke dalam ring pertarungan untuk artikel GameFight kali ini.
Siapakah yang menurut kami berhasil tampil lebih baik? Kami akan
membahasnya dari setiap elemen yang ada, termasuk kelemahan, kekurangan,
dan siapa yang berhak mendominasi dari setiap kategori tersebut.
Plot
Seperti yang sempat kami bicarakan sebelumnya, Rise of the Tomb
Raider dan Uncharted 4 sebenarnya berbagi sebuah konsep yang sama –
seorang penjelajah yang berusaha mencari harta karun klasik untuk sebuah
harta karun / kekuatan yang menakjubkan. Menariknya lagi? Keduanya juga
berusaha mengeksplorasi pendekatan cerita yang lebih personal dengan
menggali masa lalu atau rahasia karakternya yang tak pernah dibicarakan
sebelumnya. Lara Croft berusaha mempelajari masa lalu sang ayah dan
artifak yang berakhir menjadi obsesinya. Di saat yang sama, ia juga
“diburu” oleh sebuah organisasi misterius yang sepertinya mengejar hal
yang sama dan berakhir dengan sebuah plot twist. Namun sayangnya di mata
kami, ini tetap berakhir jadi sebuah game action dengan alur cerita
yang klise. Sementara di sisi lain, lewat seri keempatnya, Uncharted
mulai mendewasa. Ini bukan lagi sekedar soal Nathan Drake yang terlibat
aksi gila untuk petualangan terakhirnya, tetapi juga soal pengkhianatan,
pengorbanan, dan sebuah kesimpulan dari kisah yang terbangun selama
ini. Untuk urusan plot, Uncharted 4 jadi jawara.
Rise of the Tomb Raider (0) VS Uncharted 4 (1)
Visualisasi
Baik Rise of the Tomb Raider maupun Uncharted 4 adalah sebuah game
yang secara visual, memang tampil memesona. Keduanya dibangun dengan
platform generasi saat ini sebagai fokus hingga ada kesempatan untuk
menawarkan sebuah game yang lebih indah dari sisi estetika. Tekstur yang
lebih baik, lingkungan yang lebih luas, efek cahaya, ledakan, dan
kehancuran di sana-sini, serta detail wajah yang kini tampil lebih baik.
Pendekatan kamera yang sinematik di beberapa titik juga cukup untuk
membuat kita merasa tengah menikmati sebuah film ber-budget tinggi di
layar lebar. Namun jika harus mencari siapa yang terbaik, maka Uncharted
4 juga harus diakui memenangi kategori yang satu ini. Implementasi
physics, detail kualitas tata cahaya, hingga kemampuannya untuk
menangkap emosi tiap karakter lewat detail ekspresi wajah yang memesona
membuatnya terasa lebih mengagumkan daripada Rise of the Tomb Raider itu
sendiri. Tak hanya itu saja, efek lumpur atau sekedar rambut yang basah
juga membuat Uncharted 4 terlihat mengagumkan.
Rise of the Tomb Raider (0) VS Uncharted 4 (2)
Gameplay
Gameplay mungkin satu-satunya yang tak terlalu naik signifikan dari
Uncharted 4 dan jauh lebih menarik di Rise of the Tomb Raider. Naughty
Dog memang berusaha menawarkan sesuatu yang lebih inovatif lewat konsep
dunia yang linear tetapi lebih luas dan sistem grappling hook untuk
ekstra aksi di dalamnya. Namun pada akhirnya, walaupun dengan handling
senjata yang lebih baik sekalipun, ia tak terasa punya banyak
peningkatan dibandingkan seri-seri sebelumnya. Hal inin terasa berbeda
dengan Rise of theTomb Raider yang kini mengeksplorasi lebih jauh
sensasi game open-world yang ada. Dunia luas yang bisa Anda kunjungi
kapanpun Anda inginkan, weapon handling yang terasa lebih realistik
apalagi dengan panah yang jadi andalan, hingga kebutuhan untuk mencari
resource secara konsisten untuk memperkuat diri adalah kombinasi yang
berakhir jauh lebih kompleks dan menarik. Uncharted 4 memang punya
puzzle yang lebih solid, tetapi bukan berarti Rise of the Tomb Raider
tak menguji otak Anda di beberapa titik permainan.
Rise of the Tomb Raider (1) VS Uncharted 4 (2)
Character Design
Desain karakter tak pernah hanya soal seperti apa tampilannya di
luar, pakaian, aksesoris, atau senjata seperti apa yang digunakan.
Karena pada akhirnya, berbeda dengan game-game yang mengeksplorasi sisi
mitologi atau fantasi dengan makhluk raksasa di dalamnya, baik Rise of
the Tomb Raider maupun Uncharted 4 tetaplah berfokus pada sosok “manusia
biasa” dengan petualangan yang luar biasa. Kategori ini justru bersinar
dari seberapa baik mereka memproyeksikan karakter yang mereka tawarkan
dalam kapasitas mereka sebagai manusia biasa. Untuk urusan yang satu
ini, Naughty Dog adalah rajanya. Ia meramu sebuah cerita dimana karakter
berjalan dan bereaksi sebagaimana manusia yang selama ini Anda tahu.
Elena sedih ketika Nathan berbohong padanya dan Anda bisa melihat semua
hal itu jelas lewat ekspresi yang ada, atau Sully yang semakin tua dan
terlihat semakin bijaksana, hingga Nadine yang seolah bisa Anda kenali
kekuatannya dari sekedar proporsi tubuh dan stance-nya ketika bertarung.
Rise of the Tomb Raider sendiri terlalu berfokus pada sosok Lara Croft
hingga tak ada celah bagi karakter lain untuk bersinar. Berita buruknya
untuk Lara Croft? Sebagian besar ekspresinya, setidaknya 85% darinya,
berisikan erangan dan teriakan rasa sakit.
Rise of the Tomb Raider (1) VS Uncharted 4 (3)
Music
Sebutkan satu music yang paling Anda ingat ketika selesai memainkan
Rise of the The Tomb Raider? Anda dan saya mungkin berakhir garuk-garuk
kepala karena memang lagu latar belakang yang Anda temui selama
mencicipi petualangan Lara Croft ini bukanlah sesuatu yang bisa dibilang
memorable. Uncharted 4 sendiri sebenarnya terlibat dalam situasi yang
hampir serupa, namun harus diakui punya setidaknya beberapa ekstra lagu
yang cukup melekat di otak Anda. Namun kekuatannya adalah bagaimana
music yang ditawarkan ini justru memperkuat atmosfer dari petualangan
yang Anda jalani. Menyelami kota tua penuh misteri yang seharusnya
memuat banyak harta karun di dalamnya dan justru menemukan kejutan di
sana-sini, OST Uncharted 4 memerangkap sensasi misteri ada dengan jauh
lebih baik. Ada sensasi petualangan dan usaha mencari jawaban yang lebih
kentara di sana.
Rise of the Tomb Raider (1) vs Uncharted 4 (4)
World Design
Anda tak akan bisa membicarakan sebuah game petualangan penuh
kebudayaan dan reruntuhan kuno seperti Rise of the Tomb Raider dan
Uncharted 4 tanpa membicarakan desain dunia yang ia tawarkan. Karena
pada akhirnya, ada kebutuhan untuk membuat gamer percaya dan tertarik
untuk mengeksplorasi reruntuhan kuno yang jadi tema utama mereka.
Walaupun bergerak ke banyak tempat dengan varian lingkungan yang
berbeda, sensasi dunia yang ditawarkan oleh Rise of the Tomb Raider
terasa serupa satu sama lain dan sekedar berbeda dari sisi tekstur atau
atmosfer yang berbeda belaka. Sementara di Uncharted 4, variasi ini
terasa lebih kuat dan menarik. Anda akan menyelami sebuah hutan lebat
dengan kota yang hancur berantakan, pada luas Madagascar dengan ekstra
lumpur di sana-sini, kota dengan pasar ramai, hingga masa lalu yang kini
sudah dikuasai kembali oleh alam dengan genangan air dan rumput tinggi
di sana-sini. Kombinasi tempat yang “dingin” dari Rise of the Tomb
Raider sulit untuk menundukkan variasi yang ditawarkan Naughty Dog di
Uncharted 4, yang bahkan memuat sesi eksplorasi untuk sekedar melihat
seperti apa kehidupan sehari-hari Nathan Drake di masa pensiunnya.
Seandainya Anda bisa menjelajahi isi rumah Lara Croft untuk sekedar
mencari latar belakang cerita soal ayahnya.
Rise of the Tomb Raider (1) vs Uncharted 4 (5)
Epicness
Game mana yang berakhir lebih epic? Karena kita tahu, banyak gamer
yang sempat membandingkan cita rasa seri Tomb Raider reboot di 2013 lalu
dengan apa yang ditawarkan seri lawas Uncharted. Dimana tak hanya harus
berhadapan dengan musuh-musuh saja, Anda juga harus melawan kondisi
ekstrim dan hancurnya lingkungan yang semuanya seolah didesain untuk
mengakhiri hidup Anda secepat mungkin. Lantas, siapa yang berakhir lebih
epic? Siapa yang mampu menawarkan lebih banyak situasi yang tak hanya
sekedar berakhir dramatis, tetapi juga penuh kejutan di sana-sini? Untuk
urusan yang satu ini, Uncharted 4 kembali mendominasi. Bukan berarti
Rise of the Tomb Raider buruk, tetapi ia menawarkan porsi sesi aksi yang
menurut kami, berakhir kalah epic dengan apa yang ditawarkan Uncharted
4. Salah satu contoh? Ketika Nathan dan Sam bertarung melawan Nadine,
ketika Nathan “tak sengaja” merobohkan menara penuh lonceng untuk meraih
sebuah clue baru, atau ketika mereka harus bertarung di tengah badai
hujan. Rise of the Tomb Raider memang menawarkan beberapa scene epic,
namun fakta bahwa ia berakhir lebih banyak sebagai cut-scene dan bukan
sesuatu yang bisa Anda rasakan secara langsung cukup mengecewakan.
Bahkan, kami tak ragu menyebut bahwa Uncharted 4 menawarkan salah satu
scene game action paling fenomenal yang pernah kami temui ketika Nathan
berusaha mengejar Sam yang tengah diburu oleh truk dan sepeda motor
bersenjata dengan lumpur dimana-mana.
Rise of the Tomb Raider (1) vs Uncharted 4 (6)
And the Winner is: Uncharted 4!
Sebuah pertarungan ketat antara dua buah game yang tak hanya berhasil
menawarkan sesuatu yang jauh lebih baik daripada rilis seri sebelumnya
tetapi juga menetapkan standar untuk sebuah game action yang cukup
tinggi. Namun dengan semua keterbatasan yang ada, Uncharted 4
membuktikan kualitas yang membuatnya pantas menyabet gelar pemenang dari
sesi GameFight kali ini. Ia mungkin tak terlalu memesona dari sisi
gameplay dengan musik yang juga tak seberapa istimewa, namun hampir
semua elemen lain yang ditawarkan oleh Naughty Dog berakhir nyaris
sempurna. Konklusi cerita yang memuaskan, kualitas visualisasi yang
memesona, salah satu scene terbaik di game action yang pernah kami
temui, hingga sisi emosi karakter yang terproyeksikan begitu jelas dan
kuat membuat kami akhirnya memilih Uncharted 4: A Thief’s End.
Jika Anda termasuk gamer yang pernah memainkan kedua game ini, jangan
ragu untuk meninggalkan komentar jika Anda merasa bahwa penilaian di
atas menganut indikator yang dirasakan tidak berimbang. Apalagi jika
Anda merasa bahwa Rise of the Tomb Raider tampil jauh lebih sempurna
dibandingkan Uncharted 4. Tidak ada yang lebih menarik bagi seorang
gamer selain membuka diri dan bertukar sudut pandang ketika menikmati
game-game terbaik yang ditawarkan oleh industri game saat ini. Please feel free to discuss!
Tak lagi mampu ditangani seorang diri, Ubisoft akhirnya mulai
menerapkan sistem yang sama seperti yang ditawarkan Activision untuk
franchise miliaran USD yang juga jadi sumber uang utamanya – Call of
Duty. Setelah ditangani hanya oleh Ubisoft Montreal selama ini, didukung
dengan rilis Assassin’s Creed Unity yang dipenuhi masalah teknis,
Ubisoft akhirnya memutuskan untuk mulai menggilir poses pengembangan
game open-world bertema sejarah andalannya ini ke developer yang lain –
Ubisoft Quebec. Tahun 2015 menjadi ajang pembuktian Quebec yang selama
ini hanya berperan sebagai developer pendukung. Jawaban yang mereka
tawarkan mengalir bersama dengan timeline yang kian maju di Assassin’s
Creed Syndicate.
Sebagian besar Anda yang sudah menyimak artikel preview kami
tampaknya sudah mengerti apa yang ia tawarkan. Seperti yang sempat kami
bahas sebelumnya, kesan pertama yang ia tawarkan memang lebih solid
dibandingkan apa yang ditawarkan Montreal di Assassin’s Creed Unity.
Unity lebih terasa seperti sebuah proyek eksperimental yang berusaha
mendorong franchise populer ini ke level yang baru, terutama dari sisi
kualitas visual dan kosmetik. Sebuah kebijakan yang jadi bumerang
mematikan, apalagi dengan kritik pedas yang mengalir di sana-sini.
Assassin’s Creed Syndicate jadi proyek pembelajaran. Mereka mengerti apa
yang salah dengan Unity, menghindari hal yang membuat gamer marah,
mengembalikan apa yang membuatnya dicintai, dan menawarkan sebuah
setting dan karakter baru di dalamnya.
Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh Assassin’s Creed
Syndicate ini? Mengapa kami menyebutnya sebagai seri solid yang tak
banyak berbeda? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.
Plot
Maka seperti seri-seri AC sebelumnya, ia masih berkisar soal pertarungan antara Templar vs Assassin.
Dari segi plot, seperti kebiasaan di seri seri sebelumnya, tak ada
banyak hal yang berbeda di Syndicate. Anda masih terjebak dalam
pertarungan klasik antara para Assassin dan Templar yang tak pernah
jelas ujungnya dengan agenda masing-masing. Assassin percaya bahwa dunia
sudah selayaknya berada di kekuasaan dan keputusan yang banyak,
sementara Templar berjuang untuk mengendalikan segala sesuatunya dalam
kekuasaan yang lebih otiriter. Keduanya bertarung di balik bayangan
sejarah dan menjadi kekuatan yang mempengaruhi banyak ikon sejarah yang
selama ini kita kenal. Assassin’s Creed Syndicate masih berkisah dengan
benang merah yang sama. Bedanya? Kali ini pertempuran tersebut terjadi
di masa Revolusi Industri, Inggris. Anda kini berperan sebagai saudara kembar Fryes – Jacob Frye dan Evie Frye. Mengikuti jejak sang orang tua, mereka berambisi membebaskan London dari cengkeraman Templar yang dipimpin oleh Starrick.
Anda tak lagi hanya memerankan satu, tetapi dua orang karakter utama –
Jacob dan Evie Frye, saudara kembar beda jenis kelamin dengan orang tua
yang sudah memegang teguh perannya sebagai seorang Assassin. Dengan
jiwa muda pemberontak dan optimisme yang kuat bahwa mereka sudah
memiliki kemampuan seorang Assassin yang memang pantas, Frye bersaudara
memutuskan untuk “membebaskan” London yang dikuasai oleh seorang Templar
kuat bernama Crawford Starrick. Bukan pekerjaan yang mudah tentu saja
mengingat jaringan Templar yang sudah begitu mengakar di beragam sektor
ekonomi di kala itu.
Tapi keduanya punya metode berbeda. Jacob percaya bahwa menghancurkan
gang yang jadi pondasi kekuasaan Templar – Blighters adalah kunci utama
untuk memenangkan pertarungan yang terlihat “mustahil” ini. Sementara Evie ingin merebut dan melumpuhkan “senjata utama” Templar – Piece of Eden.
Namun Jacob dan Evie sendiri punya dua sudut pandang yang sangat
berbeda terkait solusi untuk melemahkan kekuasaan Templar. Evie merasa
bahwa solusi terbaik adalah dengan merebut “senjata utama” para Templar.
Benar sekali, ia ingin mencari Piece of Eden – artifak penuh kekuatan
dari peradaban generasi pertama yang juga jadi sumber plot Assassin’s
Creed – di London. Sementara di sisi lain, Jacob lebih memilih untuk
membawa perang ini ke area yang lebih terbuka. Ia percaya bahwa solusi
terbaik adalah mencabut akar kekuasaan para Templar yang didukung oleh
sebuah gang bernama Blighters dengan menciptakan gang baru bernama
Rooks. Dengan menghancurkan Blighters, ia percaya bahwa London akan
jatuh ke kekuasaan para Assassin. Terlepas dari metode yang berbeda,
keduanya berbagi satu misi sama yang juga didukung oleh seorang Assassin
berdarah India – Henry Green. Tantangan seperti apa yang harus dihadapi keduanya?
Lantas, tantangan seperti apa saja yang harus dihadapi oleh Jacob dan
Evie Frye? Mampukah mereka membebaskan London dari kekuasaan para
Templar? Apakah mereka akan menemukan Piece of Eden yang baru? Semua
jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda dapatkan dengan memainkan
Assassin’s Creed Syndicate ini.
Selamat Datang di London!
Selamat datang di London!
Setelah berkutat dengan masa Revolusi Perancis yang ikonik di seri
Unity sebelumnya, Ubisoft memutuskan membawa Syndicate ke era Revolusi
Industri di London. Maka seperti seri-seri sebelumnya, keakuratan
representasi kota besar ini tentu saja jadi nilai jual tersendiri,
apalagi mengingat dinamika yang unik ketika industri mulai naik dan
menjadi basis untuk kehidupan yang lebih modern. Untuk urusan yang satu
ini, Ubisoft mengeksekusi elemen ini dengan sangat luar biasa. Tak hanya
luas, landmark khas London juga ditawarkan dengan detail memesona di
sini lengkap dengan efek tata cahaya dramatis dan efek cuaca berubah
yang membuat segala sesuatunya lebih sempurna. London di era modern ini
akan membuat mata Anda senantiasa termanjakan.
Ia berhasil menangkap gejolak revolusi industri Inggris dengan tepat,
lengkap dengan detail landmark yang juga pantas untuk diacungi jempol. Kota juga terlihat dinamis dengan segala aktivitasnya. The best part? Sungai Thames yang fantastis!
Bagian terbaik dari London? Tak hanya sekedar arstitektur bangunan
khas yang masih kita temui di area modern saat ini, tetapi juga sungai
raksasa yang membelah kota raksasa yang satu ini. Benar sekali, kita
tengah membicarakan Sungai Thames. Kehadiran sungai dengan aktivitas
lalu lintas kapal yang padat ini memberikan nuansa yang baru di
Assassin’s Creed Syndicate. Tak hanya berhasil memotret visualnya dengan
baik, ia juga berhasil diimplementasikan ke dalam sisi gameplay yang
sama kerennya. Membajak kapal, mencuri beragam kargo yang bertebaran di
dalamnya, atau sekedar melewati tiap kapal dengan gerak lincah jadi
pemandangan memanjakan mata tersendiri.
Satu yang menarik dan pantas jadi catatan, Ubisoft Quebec tak
“sebodoh” Montreal ketika mereka menjual Unity. Ia tidak memaksakan
bahwa London harus jadi kota dengan penduduk super ramai yang hilir
mudik dengan kegiatan ekonomi yang sibuk karena industri yang
berkembang. Aktivitas tersebut direpresentasikan dengan jalan yang lebih
luas dan beragam kendaraan berupa kereta kuda yang memenuhinya. Tak ada
lagi “pemaksaan” untuk memuat ratusan NPC dalam satu layar seperti
blunder yang terjadi di Unity tahun lalu. Hasilnya? Tak hanya London
terasa lebih natural, ia juga tak banyak menghadirkan masalah teknis.
Framerate stabil, tak ada gerak NPC yang tak natural, minim bug, Quebec
belajar banyak.
Tak “sebodoh” Unity yang mati-matian menyuntikkan ratusan NPC dalam
satu layar yang tak punya signifikansi apapun, Syndicate tak menawarkan
hal tersebut. Efek positifnya? Minim masalah teknis. Tata cahaya yang masih memesona.
Hasilnya? Dengan minimnya masalah teknis seperti ini, atmosfer yang
ditawarkan London membuatnya lebih bisa dipercaya. Luas, detail, penuh
landmark yang memanjakan mata, efek tata cahaya yang masih memesona,
kombinasi cuaca yang dinamis, masalah teknis minim, secara garis besar –
Assassin’s Creed Syndicate menawarkan sebuah London yang akan mudah
Anda nikmati.
Tetap Assassin’s Creed yang Anda Kenal
Masih sebuah seri AC yang selama ini Anda kenal!
Untuk memastikan dirinya berbeda dengan seri-seri sebelumnya,
Syndicate tentu saja harus menawarkan sesuatu yang baru, terutama dari
sisi mekanik gameplay. Sebuah keharusan tentu saja agar ia menyatu
dengan atmosfer dan tema Revolusi Industri di London, yang membuat
Syndicate menjadi seri Assassin’s Creed paling modern sejauh ini. Ada
banyak hal yang berubah secara total dan dimodifikasi untuk menciptakan
sensasi baru ini, namun secara garis besar, Assassin’s Creed Syndicate
tetaplah seri Assassin’s Creed yang selama ini Anda kenal.
Sebuah formula yang tak pernah berubah sejak tahun-tahun sebelumnya,
Syndicate tetap mengusung sistem open-world khas Assassin’s Creed. Ini
berarti Anda akan berhadapan dengan sebuah peta besar yang bisa Anda
eksplorasi sejak awal permainan. Akan ada beberapa poin sinkronisasi
yang akan meminta Anda untuk memanjat titik tertinggi untuk membuka
serangkaian misi sampingan yang ada, di luar misi utama dalam bentuk
ikon berbeda yang bisa dipicu untuk mendorong progress cerita yang
kembali, terbagi ke dalam beragam sekuens. Formatnya masih sama, misi
akan punya objektif optional untuk diselesaikan. Secara garis besar, ia
tetaplah sebuah seri Assassin’s Creed yang Anda kenal. Alhasil? Terlepas
dari beragam hal baru yang ia tawarkan, pengalaman bermain yang Anda
hadapi tak akan banyak berbeda. Secara garis besar, ia mengkombinasikan sistem side mission dan main mission yang mirip dengan seri-seri sebelumnya.
Seperti sistem multi-karakter ala GTA, Anda bisa menggunakan Evie
ataupun Jacob ketika mengekplorasi dan menempuh misi sampingan kecil.
Walaupun punya set skill yang hampir serupa, Jacob lebih difokuskan
pada pertempuran terbuka sementara Evie bersinar di gaya stealth.
Walaupun demikian, AC Syndicate menawarkan banyak hal baru yang untuk
pertama kalinya diaplikasikan di franchise raksasa ini. Pertama, tentu
sistem dua karakter yang ia usung. Hampir serupa dengan sistem tiga
karakter yang disuntikkan Rockstar di GTA V, Anda bisa bebas menggunakan
Jacob maupun Evie ketika tengah mengeksplorasi London secara bebas.
Keduanya memang hadir dengan set skill yang hampir mirip satu sama lain,
namun cukup berbeda seiring dengan progress. Tidak ada senjata
eksklusif untuk masing-masing karakter ini, namun Jacob lebih punya
kemampuan ekstra untuk bertarung secara terbuka sementara Evie berfokus
pada kemampuan stealth yang lebih optimal. Anda bisa bebas menggunakan
karakter di beberapa misi sampingan, namun Anda akan dipaksa untuk
menggunakan karakter tertentu ketika mengakses sisi cerita utama yang
ada. Mengadopsi elemen RPG, sistem level diperkenalkan. Ia membantu memberikan gambaran soal disparitas kekuatan antara Anda dan area London yang hendak Anda “bersihkan”.
Sistem baru lain yang disematkan adalah elemen RPG yang lebih kental.
Kita tidak tengah membicarakan sistem pohon skill yang memang sudah
ditawarkan di seri sebelumnya, melainkan kini dengan sistem level. Area
London kini terbagi dalam beberapa tingkat level untuk memberikan
sedikit gambaran soal perbedaan kekuatan Anda dan ancaman yang harus
Anda hadapi. Sistem pertarungan yang lebih kompleks dan tak lagi terasa
overpower seperti seri sebelumnya membuat mekanisme baru ini lebih
signikan. Perbedaan level yang terlalu jauh bisa diterjemahkan sebagai
sebuah handicap, yang berarti membuat Anda selangkah lebih dekat dengan
kematian.
Pertarungan di Syndicate memang terasa lebih kompleks. Walaupun kita
sudah memasuki “era” modern, ia masih berfokus pada pertarungan secara
melee yang kini tak ubahnya sistem gunting, batu, kertas yang lebih
menuntut. Menyerang di saat yang tepat, melakukan counter dan membuka
pertahanan musuh ketika dibutuhkan, menghabisi satu musuh saja bisa
memakan waktu yang lama jika Anda bertarung tanpa menaikkan pohon skill
untuk ekstra kemampuan ofensif. Bertarung dengan banyak musuh sekaligus
yang menyerang dari segala arah? Kesempatan Anda untuk bertahan hidup
semakin kecil. Namun mengkombinasikannya dengan beda level karakter dan
area yang terlalu jauh? Maka bersiaplah untuk berhadapan dengan
kematian. Mengapa? Karena efek level tersebut bisa dibilang signifikan.
Karakter dengan level lebih tinggi akan punya damage jauh lebih besar
dan HP yang lebih alot. Kombinasi yang cukup untuk membuat Anda terlihat
seperti anak ayam di hadapan serigala bengis.
Sistem pertarungan di AC Syndicate terasa lebih sulit dan kompleks,
membuat perbedaan level bisa berujung jadi jaminan kematian.
Sistem “gunting, batu, kertas” yang lebih kentara diimplementasikan di
sistem pertarungan kali ini. Dengan sekali-kali, Anda harus menghindari
serangan senjata api yang muncul acak.
Level juga menentukan varian equipment dan senjata yang bisa Anda
gunakan. Semakin tinggi level, semakin kuat pula status yang ia
tawarkan.
Tinggi level karakter tak hanya menunjukkan seberapa banyak skill
yang sudah berhasil Anda buka, tetapi juga membuka kesempatan untuk
mengenakan serangkaian equipment, senjata ataupun armor untuk ekstra
kemampuan bertahan hidup lebih baik. Benar sekali, varian armor dan
senjata kini juga dibatasi oleh level, membuat sistem ini jauh lebih
signifikan dari yang seharusnya.
Apakah ini berarti Anda tak punya kesempatan untuk menundukkan area
dengan range 1-2 level lebih tinggi? Tentu saja tidak. Anda selalu punya
opsi untuk melakukan instant kill dengan menggunakan mekanisme stealth
yang ada. Berbeda dengan seri-seri AC sebelumnya yang tak membuatnya
berbeda, Syndicate menyuntikkan dua status untuk tiap karakter – stealth
dan non-stealth. Dengan hanya menekan satu tombol saja, karakter bisa
masuk ke dalam mode stealth yang tak hanya diikuti dengan aksi menutup
wajah dengan hood khas Assassin, tetapi juga bergerak lebih lambat
dengan langkah kaki yang lebih sunyi. Mode stealth juga memungkinkan
karakter Anda untuk melakukan cover ketika bergerak mendekat ke dinding
terdekat. Sementara mode non-stealth memang lebih difokuskan ketika Anda
butuh bergerak lebih cepat atau sekedar eksplorasi.
Mode stealth – non-stealth kini bisa diaktifkan secara langsung.
Stealth yang ditandai dengan digunakannya hood menawarkan gerak lebih
lambat dan sunyi.Grand Theft Assassin.. Rope Launcher, perlengkapan baru yang cukup untuk membuat arwah-arwah Assassin di masa lalu iri.
Untuk membuat eksplorasi kota London yang lebih luas dengan ekstra
gedung tinggi menjadi lebih nyaman untuk dieksekusi, Syndicate juga
menyuntikkan dua mekanisme baru. Pertama, tentu saja kendaraan. Seperti
halnya sistem di GTA, Anda kini bisa merebut dan menggunakan setiap
kereta kuda yang Anda temukan di jalan untuk bergerak lebih cepat. Ada
beberapa misi baru juga yang berkisar pada mekanisme baru ini, dari
mengejar hingga mengantarkan target. Anda juga bisa melompat dan
membunuh musuh dari satu kereta kuda ke kereta kuda lainnya. Mekanisme
baru kedua? Perkenalkan Rope Launcher – sebuah grappling hook ala Batman
yang akan memungkinkan karakter Anda untuk bergerak vertikal, setinggi
apapun, secara instan. Tak perlu lagi mati-matian memanjat hanya untuk
point sinkronisasi, Rope Launcher akan cukup untuk membuat para Assassin
di masa lalu menjerit iri karena kemudahan yang ia tawarkan. Ia juga
memungkinkan Anda untuk bergerak cepat dari satu point gedung ke gedung
lainnya tanpa perlu lagi memanjat ulang. Terlepas dari beragam mekanik baru yang ia tawarkan, cita rasa khas Assassin’s Creed masih melekat sangat kuat.
Secara garis besar, terlepas dari hal baru yang ditawarkan Ubisoft di
Assassin’s Creed Syndicate, ia masih tetap terasa seperti sebuah seri
Assassin’s Creed yang kita kenal. Ia memang menawarkan sistem dua
karakter, Rope Launcher, kendaraan, dan sistem level untuk membatasi
gerak karakter, namun pada akhirnya, ia tetaplah sebuah game open-world
yang menawarkan Anda serangkaian side mission bersama dengan misi utama
untuk melanjutkan cerita. Sebuah formula yang tampaknya tak lagi terasa
asing untuk para veteran franchise ini.
Desain Side Mission yang Jauh Lebih Baik
Lupakan mimpi buruk Unity! AC Syndicate hadir dengan desain side mission yang jauh lebih berkualitas!
Acungan dua jempol pantas untuk diarahkan untuk elemen yang menurut
kami pribadi, merupakan lonjakan tersendiri dari seri AC Unity
sebelumnya. Berapa banyak dari Anda yang masih ingat dengan trauma
segudang ikon yang saling tumpang tindih di peta Paris AC Unity? Dimana
Ubisoft mati-matian berusaha menghadirkan ilusi bahwa mereka menyematkan
begitu banyak aktivitas untuk dinikmati? Berita buruknya, ia seringkali
berakhir dengan kekecewaan karena sebagian besar ikon ini ternyata
mepresentasikan aktivitas side mission yang terasa remeh-temeh,
membosankan, dan repetitif. Untungnya, ia mengalami perbaikan yang
sangat signifikan di AC Syndicate kali ini. Tak lagi menawarkan
kuantitas, ia kini lebih menjual kualitas. Sebuah pendekatan yang tentu
saja, harus disambut dengan positif. Peta kini lebih “bersih”. Anda hanya butuh melakukan 4-8 misi sampingan untuk membersihkannya dari pengaruh Templar.
Tak lagi sekedar menjual kuantitas, AC Syndicate lebih berfokus pada
kualitas tiap side mission yang menawarkan tantangan dan daya tarik
lebih kuat.
Sesuai dengan tema utama yang berkisar pada usaha untuk melemparkan
kekuatan gang bernama Blighters yang jadi pondasi kekuasaan Templar di
London, maka AC Syndicate menawarkan desain misi sampingan yang lebih
mengakar pada konsep tersebut. Anda akan berhadapan dengan London yang
terpecah atas beragam region-region lebih kecil, yang masing-masing
darinya, terbagi ke dalam area yang lebih kecil lagi. Misi utamanya
adalah “membersihkan” area-area ini. Tak lagi harus berhadapan dengan
segudang misi sampingan yang tak punya tujuan apapun, setiap side
mission yang Anda selesaikan akan memberikan pengaruh pada misi utama
ini. Satu area kini mungkin hanya akan membuat 6-8 misi sampingan yang
harus diselesaikan. Ia mampu membuat identitas Anda sebagai seorang Assassin yang punya peran signifikan semakin menonjol.Gang War!!
Kerennya lagi? Anda tak akan berhadapan dengan misi omong kosong yang
terasa sia-sia. Sebagian besar misi sampingan yang Anda lalui memang
mencerminkan peran aktif Anda sebagai seorang Assassin yang tengah
berjuang membebaskan London. Anda menyelamatkan pekerja anak, membunuh
target Templar, menculik agen yang mungkin berhadapan dengan mereka,
hingga mengobarkan perang gang untuk merebut alih kekuasaan secara
permanen. Semuanya ditawarkan dalam bentuk ikon yang tak lagi tumpah
tindih satu sama lain. Tiap misi ini menawarkan ekstra tantangan dan
kebebasan metode untuk diselesaikan. Begitu semua misi sampingan ini
ditundukkan, Anda akan bertarung dalam pertempuran gang dengan pemimpin
Blighters di region tersebut. Sebuah pengalaman Assassin’s Creed yang
lebih terasa tepat sasaran.
Tak hanya itu saja, Ia juga memuat beberapa misi ekstra yang tak
berhubungan dengan misi sampingan tersebut, seperti kesempatan untuk
merampok harta karun dari kereta milik Blighters atau mencuri kargo dari
kapal mereka di sungai Thames, misalnya. Ia tak berpengaruh signifikan
pada usaha untuk membersihkan London, namun menyumbang kontribusi uang
dan experience untuk memperkuat karakter Anda. Uang menjadi elemen yang
penting bukan hanya karena beragam item dan equipment yang harus Anda
crafting berdasarkan blueprint yang Anda temukan atau reward misi,
tetapi juga sebagai pondasi untuk memperkuat gang – The Rooks yang Anda
kuasai. Benar sekali, selain pohon skill untuk karakter utama yang Anda
gunakan, gang Anda akan punya pohon skill lain yang akan punya pengasruh
tersendiri pada efektivitas mereka di dalam kota. Pohon skill kini juga tersedia untuk memperkuat anggota gang Anda. Tokoh-tokoh dunia yang lebih ikonik!
Kerennya lagi? Pesona misi sampingannya tak berhenti begitu saja di
sana. Assassin’s Creed Syndicate juga menawarkan beberapa misi “cerita
ekstra” dengan karakter-karakter sejarah ikonik dengan adaptasi tema
yang juga sama kuatnya. Anda akan bertemu dengan Charles Darwin yang
teori evolusinya masih terus ditentang oleh kaum agamais di kala itu,
atau Karl Marx yang berjuang untuk mengorbarkan ideologinya kepada
rakyat London, atau Charles Dickens yang aktif menelusuri beragam
fenomena aneh di London. Ada perasaan yang kuat bahwa peran Anda sebagai
tokoh di belakang layar lah yang membuat nama-nama ini bertahan hidup
dan punya kesempatan untuk mengungkapkan beragam terobosan ide kreatif
mereka kepada dunia. Semuanya dibangun dengan racik misi yang tepat dan
tentu saja, voice acts yang tak kalah luar biasa.
Assassin’s Creed Syndicate mengeksekusi misi sampingan yang ia
tawarkan jauh lebih sempurna dibandginkan beberapa seri AC sebelumnya.
Bukan lagi sekedar datang ke satu titik ikon dan bekerja layaknya
seorang pembantu dengan peran yang tak terasa signifikan, melakukan hal
remeh temeh yang repetitif, mereka berhasil menjual kualitas di atas
kuantitas di Syndicate. Setiap misi punya daya tarik dan ekstra
tantangannya sendiri. The first rule of Fight Club is: you do not talk about Fight Club..
Berita yang lebih baik? Mereka tak menjadikan misi seperti
mengumpulkan glitch, peti, dll sebagai sesuatu yang pantas untuk
diikutsertakan di dalam peta. Anda bisa melakukannya untuk mendapatkan
ekstra resource demi crafting, namun tak terasa seperti sebuah aktivitas
wajib. Sistem mekanik baru seperti penggunaan kendaraan juga melahirkan
misi sampingan baru seperti balap atau time attack dengan ekstra misi
Fight Club yang juga memungkinkan Anda bertarung tangan kosong di arena
untuk membuktikan seberapa kuatnya Anda.
Komplain Utama? Cerita Futuristik Omong Kosong!
Not this again..
Jika ada satu hal yang membuat kami merasa kecewa dan sedih dengan AC
Syndicate adalah fakta bahwa Ubisoft masih berjuang keras untuk
mendorong sebuah plot yang sebenarnya tak lagi terasa sepenting di
seri-seri awal. Anda masih ingat ketika Anda berperan sebagai Desmond
Miles di tiga seri utama Assassin’s Creed pertama? Pertarungan Templar
dan Assassin di era futuristik di kala itu terasa sebagai plot utama
yang terus menarik perhatian dan memancing rasa penasaran karena memang
ada konflik utama di sana. Desmond diceritakan sebagai seorang Mesias
yang akan mampu menyelamatkan dunia dari kiamat. Di sinilah, tokoh-tokoh
dari First Civilization punya peran dan selalu mengundang keterkejutan,
apalagi di seri Assassin’s Creed 2. Anda harus tahu apa yang sebenarnya
tengah terjadi dan seberapa penting sebenarnya peran Desmond di sana.
Namun sepeninggal Desmond dan mulai masuknya ia sebagai “karakter
sampingan” untuk seri-seri AC selanjutnya, point futuristik ini seperti
kehilangan arah. Ubisoft sebenarnya sangat mengerti hal tersebut. Ia
dengan jelas tidak menawarkan karakter baru sekelas Desmond untuk
membuat fokus cerita lebih mengarah pada nilai jual historis, sekaligus
meminalisir gamer dari omong kosong Abstergo dan Templar di masa depan.
Namun sayang seribu sayang, mereka tak menyerah begitu saja. Assassin’s
Creed Syndicate kembali berusaha membangun pondasi untuk sebuah konflik
yang menurut kami pribadi, akan jauh lebih menarik untuk dibuang
jauh-jauh dan tak perlu diikuti lagi. Berusaha “mendorong” konsep futuristik AC dengan konflik baru terasa seperti omong kosong besar. Sulit untuk peduli jika Anda bahkan tak punya lagi kesempatan interaktif di dalamnya.
Anda akan bertemu kembali dengan salah satu tokoh penting di First
Civilization yang kembali membuka dan menawarkan sebuah “solusi” untuk
konflik masa depan yang tampaknya akan jadi sumber masalah baru. Berita
buruknya? Berbeda dengan Desmond dimana Anda punya kendali penuh dan
memang bermain peran sebagai dirinya di beberapa titik, Ubisoft
memutuskan untuk “meniadakan” elemen futurisik tersebut dari gameplay. Bull..
Semua hal yang terjadi di masa depan AC Syndicate hanya ditawarkan
dalam bentuk film CGI yang memperlihatkan konflik yang tengah terjadi.
Terus, bagaimana mungkin gamer, termasuk kami bisa merasa terhubung dan
peduli dengan konflik baru ini jika ia dilemparkan “malas” dan sekilas
dalam bentuk CGI tanpa ada keterlibatan sama sekali? Di sinilah, Ubisoft
gagal. Gagal membuat kami merasa harus peduli, khawatir, dan
memerhatikan apapun yang akan terjadi di masa depan dengan First
Civilization kembali jadi fokus. Terkesan dipaksakan, benang merah ini
sudah seharusnya putus dan mati sejak Desmond tak lagi eksis.
Kejutan! Kejutan! Kejutan!
SPOILERS
JANGAN MEMBACA SESI INI JIKA ANDA BERKEBERATAN DENGAN SPOILER AC: SYNDICATE SETELAH CERITA UTAMA
Untuk pertama kalinya, sebuah seri AC menawarkan konten ekstra setelah akhir cerita.
Ada satu hal lainnya yang membuat kami jatuh hati dengan AC Syndicate
secara instan, sebuah kejutan yang tak pernah kami prediksikan
sebelumnya. Anda masih ingat dengan sesi perang dunia kedua di AC Unity
yang diperlakukan sebagai kesalahan memori? Sebuah timeline yang lebih
maju melawan para Nazi ini tentu tak bisa dilupakan begitu saja.
Terlepas dari tema menarik yang ia usung, eksekusi yang dilakukan
Ubisoft harus diakui, buruk. Pertama, sebagian besar waktu yang Anda
habiskan di timeline menarik ini berakhir hanya sekedar eksplorasi,
memanjat, dan beraksi dalam sebuah format yang sangat linear. Kesalahan
kedua dan yang paling fatal? Fitur yang bisa jadi kejutan tersebut
justru dibuka kepada publik lewat sebuah trailer, menghilangkan charm
yang seharusnya bisa semakin membuat Unity terasa luar biasa.
Fakta bahwa Syndicate menawarkannya sebagai konten “cuma-cuma” terlepas
dari fakta bahwa ia bisa dieksploitasi jadi DLC berbayar pantas
diapresiasi. Misi Victoria berkisar pada usaha untuk menangkal kekuasaan Templar kembali.
AC Syndicate juga belajar dari kesalahan ini. Berbeda dengan desain
misi seri-seri AC sebelumnya yang biasanya berakhir setelah cerita utama
selesai, Ubisoft Quebec menawarkan dua varian misi berbeda yang justru
baru akan dibuka setelah Anda menyelesaikan cerita utama di AC
Syndicate. Pertama adalah misi Queen Victoria. Setelah berhasil
membebaskan London dari kekuasan Templar dan mengembalikan kekuasaan
monarki ke tangan Victoria, Anda berperan tak ubahnya kekuatan “rahasia”
yang diandalkan untuk memastikan kekuatan Templar ini tak kembali dalam
waktu dekat. Bertemu dan berinteraksi dengan Queen Victoria secara
langsung dan menempuh misi darinya langsung jadi daya tarik tersendiri.
Mengapa? Karena kita semua tahu, bahwa di masa lalu, konten “pendek”
seperti ini bisa saja mereka jual sebagai DLC.
Ini mungkin jadi momen paling mengejutkan. Tak pernah masuk sebagai
bahan promosi, eksplorasi di era perang dunia pertama jadi kejutan yang
menyenangkan. Kerennya? Anda tetap berperan sebagai keturunan Frye. Berbeda dengan Unity yang linear, konsep ini diaplikasikan dalam sesi open-world kecil di dalam London masa depan itu sendiri. Lengkap dengan desain dan efek visual dramatisnya sendiri.
Hal kedualah yang membuat kami terkejut. Mengapa? Karena terlepas
dari hype yang berusaha dibangun Ubisoft selama beberapa bulan terakhir,
mereka sama sekali tidak pernah membocorkan misi ekstra setelah tamat
yang satu ini. Benar sekali, sebuah anomali kini melemparkan Anda ke
masa depan, ketika London tengah diserang di Perang Dunia Pertama. Namun
berbeda dengan format AC Unity yang bergerak secara linear, Quebec
benar-benar menawarkan sebuah porsi London “masa depan” yang bisa Anda
eksplorasi dengan sistem misi utama dan sampingan yang serupa. Anda
bahkan bisa bertemu dengan Winston Churchill di dalamnya. Kerennya lagi?
Bukan karakter asing, Anda berperan sebagai Assassin dari keturunan
Frye. Sayangnya, Anda tak bisa menggunakan teknologi yang tersedia di
peta seperti mobil / tank yang ada untuk sekedar bersenang-senang. Surprise!
Dua konten ekstra yang punya nilai jual lebih ini dan berakhir jadi
rahasia selama proses marketing tentu saja membuat kami terkejut,
sekaligus tak segan melemparkan acungan dua jempol untuk Ubisoft.
Pertama, karena ia jadi konten yang bisa diprediksi yang menyempurnakan
elemen seri sebelumnya. Kedua? Mereka memutuskan untuk tidak
menjadikannya sebagai DLC yang seharusnya jadi praktik “standar”
industri saat ini.
SPOILERS ENDS
Kesimpulan
AC Syndicate tetaplah sebuah seri game open-world yang menarik untuk
dinikmati. Ia akan jadi seri solid yang cukup memuaskan para penggemar
franchise ini, apalagi jika Anda termasuk yang cukup kecewa dengan Unity
tahun lalu. AC Syndicate terlihat belajar banyak dari beragam keluhan
yang sempat didengungkan gamer tahun lalu, menyulap, dan
mengimplementasikan semua hal yang akan mudah membuat mereka jatuh hati
Jadi apa yang bisa disimpulkan dari Assassin’s Creed Syndicate?
Sebuah seri yang solid, ini mungkin kalimat yang paling tepat untuk
menggambarkannya. Ia menawarkan banyak hal yang baru terutama dari
mekanik gameplay yang ditawarkan hingga side mission yang lebih
menonjolkan kualitas daripada kuantitas. Namun pada akhirnya, ia tak
berakhir menawarkan sesuatu yang berbeda secara signifikan. Secara inti,
AC Syndicate tetaplah sebuah seri Assassin’s Creed yang selama ini Anda
kenal, yang menjual desain open-world yang serupa namun kali ini dengan
kombinasi elemen yang lebih tepat. Minim masalah teknis, Quebec belajar
banyak dari blunder yang dilakukan Unity. Semua keunggulan tersebut
dikombinasikan dengan desain kota London yang memanjakan mata.
Walaupun demikian, bukan berarti game ini hadir tanpa kekurangan.
Permasalahan pertama, seperti yang sempat kami sebut di atas, adalah
tema cerita futuristik melibatkan First Civilization yang sudah terkesan
dipaksakan dan tak lagi menarik. Abstergo, Templar, dan Juno tak bisa
lagi memancing rasa penasaran seperti ketika Desmond masih eksis di masa
lalu.
Keluhan kedua yang pantas untuk dicatat juga adalah ilusi NPC yang
justru semakin parah dibandingkan Unity. Kita tidak tengah membicarakan
masalah pop-up dan segalanya, tetapi fakta bahwa mereka “menolak” untuk
bereaksi atas apapun aktivitas yang Anda lakukan. Membunuh seorang
anggota gang lawan atau polisi di keramaian? Anda akan lebih banyak
menemukan NPC yang sekedar diam. Catatan ketiga juga mengakar pada AI
musuh yang sama bodohnya. Bahkan ketika aksi Stealth Anda ketahuan dan
Anda sudah bertarung secara terbuka, sering kejadian bahwa AI-AI di
sekitar terlihat seperti tak acuh dan tak melemparkan reaksi apapun
untuk mengepung atau menyerang Anda. Hasilnya? Setiap aksi jadi minim
resiko.
Namun terlepas dari catatan tersebut, AC Syndicate tetaplah sebuah
seri game open-world yang menarik untuk dinikmati. Ia akan jadi seri
solid yang cukup memuaskan para penggemar franchise ini, apalagi jika
Anda termasuk yang cukup kecewa dengan Unity tahun lalu. AC Syndicate
terlihat belajar banyak dari beragam keluhan yang sempat didengungkan
gamer tahun lalu, menyulap, dan mengimplementasikan semua hal yang akan
mudah membuat mereka jatuh hati. AC Syndicate adalah sebuah proyek game
yang bagus dan menarik. Namun revolusioner dalam arti mengubah daya
tarik Assassin’s Creed yang selama ini kita kenal? Belum sampai kesana.
Kelebihan
4 Man Finisher!!
Kota London yang Indah
Karakter yang cukup menarik
Desain side mission yang jauh lebih baik
Minim masalah teknis
Sensasi berkendara yang nyaman
Banyak karakter pendukung yang lebih ikonik
Animasi gerak dan serangan yang ciamik
Kelemahan
AI musuh yang semakin tolol
Cerita First Civilization yang mulai terasa seperti omong kosong
NPC penduduk yang tak reaktif pada aksi kita
AI musuh yang semakin bodoh
Cocok untuk gamer: pencinta franchise Assassin’s Creed, yang tak puas dengan AC Unity Tidak cocok untuk gamer: yang tak lagi puas dengan mekanisme open-world ala AC, butuh tantangan ekstra